CERPEN: Malapetaka Merapi



MALAPETAKA MERAPI
 Karya: Krisnawati

Pagi itu, matahari terbit diiringi suara kicauan burung yang saling bersahut-sahutan. Suara yang begitu harmonis penenang batin menjadi hal biasa bagi masyarakat disekitar gunung Merapi, karena keadaan alam disana masih sangat bersahabat begitu berbeda dengan keadaan alam dikota – kota besar. Dilereng gunung Merapi yang terkenal ditelinga masyarakat Indonesia maupun dibeberapa negara tetangga terdapat sebuah desa yang penuh pesona. Masyaraknya yang ramah saling peduli satu sama lain menjadi keindahan yang tak ternilai harganya, ditambah lagi hamparan sawah yang mulai menguning memanggil – manggil untuk dipanen semakin membuat desa sederhana itu menjadi luar biasa asri nan indah.

Didesa sederhana namun begitu mempesona itu, tinggalah sebuah keluarga kecil yang hari – harinya selalu dihiasi senyum manis yang menenangkan jiwa. Dewi, begitulah aku biasa memanggilnya. Ia adalah anak dari Yanto dan Ijah. Mereka tinggal disebuah rumah kacil bersama seorang keponakan Dewi yang masih berusia 6 tahun dan biasa ia panggil Caca. 

Dewi seorang gadis kecil berusia 8 tahun tampak sedang menyapu halaman rumahnya yang tidak begitu luas, namun penuh dengan warna – warni dan sedap harumnya bebungaan. Dewi memang anak yang rajin membantu orang tua, ia juga sangat peduli dengan lingkungan. Tak heran rumahnya yang biasa saja bisa menjadi pusat perhatian masyarakat sekitarnya, pujian demi pujian untuk Dewi terus mengalir dengan seiring harumnya bunga yang selalu tercium.

Pagi itu, setelah Dewi memastikan tak ada lagi sampah di halaman rumanya, ia memutuskan untuk segera mandi. “Huh, akhirnya halaman rumahku bersih juga, ini saatnya aku mandi” seru Dewi sambil menghela nafas. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sederhana dibelakang rumahnya, mungkin terlalu berlebihan jika itu disebut kamar mandi. Toh itu hanyalah papan – papan yang diletakkan berjajar membentuk kotak dan didalamnya  diberi 2 ember berisi air. Memang kehidupan keluarga Dewi tidak lebih baik dari tetangga sekitarnya, tapi Dewi tak pernah mengeluh dengan keadaan itu. Ia selalu bersyukur, dalam benaknya masih terbayang ia lebih beruntung sedang diluar sana banyak anak – anak yang tidak bisa sekolah karena waktunya terkikis habis untuk mencari uang agar bisa bertahan hidup. “Dewi ini handuknya, ibu taruk sini ya?” ujar ibunya sambil meletakkan handuk didekat pintu. “Iya bu, makasih” sahut Dewi. Selesai mandi Dewi segera memakai seragam sekolah yang tak lagi putih, dan mulai robek sedikit demi sedikit karena termakan usia. “Hah ! sudah jam 7?” sontak Dewi terkejut ketika ia melihat jam. Lalu ia mempercepat gerakannya. “Ibu, Ayah aku berangkat ya!” pamit Dewi. “Sarapan dulu nak, perintah ayahnya dengan nada bijaksana. “Tidak terima kasih yah! Aku sudah telat” jawab Dewi dengan perasaan tidak enak karena ibunya telah repot – repot meluangkan waktu memasak sarapan untuknya. Seperti biasa Dewi pergi kesekolah dengan bermodalkan kedua kakinya, tapi hari ini ia lebih mempercepat langkah kakinya, karena matahari semakin tinggi dan semakin terik pula sinar yang terpancar sebagai pertanda hari sudah siang yang mungkin sebagai pertanda juga bahwa Dewi akan terlambat untuk mendapatkan suapan ilmu dari gurunya. Akhirnya tibalah Dewi disekolah dengan nafas yang sedikit terengah – engah. Waktu demi waktu berlalu disekolahan Dewi, ia kembali melangkahkan kaki kembali kerumah.

Matahari mulai tenggelam hingga malam mulai menghampiri, Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menyerang kedua mata Dewi. Tanpa disadari ia tertidur diruang belajarnya dengan berbantalkan buku –buku pelajaran. Malam itu udara yang  biasanya sejuk berubah menjadi panas yang aneh. Suara gemuruh didalam tanah samar – samar didengar Dewi dalam tidurnya. Bukan hanya itu, keanehan semakin terlihat ketika banyak suara hewan yang turun dari gunung. Keanehan alam malam itu tidak dihiraukan oleh keluarga Dewi. Hingga waktu mulai menjelaskan segalanya, malam itu gunung Merapi yang senantiasa berjasa berubah menjadi malapetaka yang tak terbayangkan. Letusan gunung yang dahsyat terjadi dengan tiba – tiba, muntahan lahar panas melunjur dari bibir gunung diiringi wedus gembel yang dengan cepat menyebar keseluruh  wilayah termasuk ke desa tempat Dewi tinggal. Letusan yang mendadak membuat banyak korban jiwa berjatuhan.  Syukurlah letusan dahsyat malam itu tidak membuat Dewi kehilangan keluarganya. Tapi, suatu hari ketika Dewi sedang menuntut ilmu. Terjadilah hujan deras di puncak gunung Merapi, aliran lahar dingin terus mengalir sampai kedesa Dewi. Dewi terkejut saat ia tak lagi bisa melihat warna – warni bunga dihalaman rumahnya. Semuanya berubah, ia hanya bisa melihat hamparan lahar dingin dengan bau belerang  yang mengubur desanya. “Ibu !!! Ayah !!! Caca !!! dimana kalian?” panggil Dewi sambil meneteskan air mata rasanya tak percaya. Dewi duduk termenung di halaman rumahnya yang tak lagi indah. Ia mencoba membendung air matanya yang tak kunjung berhenti. “Ibu... dimana kamu? Aku takut sendiri, disini bau ! disini panas. Ayah Dewi butuh ayah” tangis Dewi. “Hei nak sedang apa kamu disini?” tanya seorang lelaki parubaya yang berpakaian mirip tim SAR. “Aku sedang mencari keluargaku” ungkap Dewi. “Tapi keadaan disini masih sangat berbahaya, ayo ikut bapak ke pengungsian” ajak lelaki itu. “Tidak ! aku tidak akan bergerak dari sini sebelum kutemukan keluargaku” tekad Dewi. “Jangan ! disini berbahaya. Mungkin keluargamu sudah berada dipengungsian” jelas lelaki itu. Dewi mulai luluh, akhirnya ia pergi kepengungsian dengan harapan besar ia bisa bertemu keluarganya lagi. Tapi, harapan itu pupus sudah ketika Dewi tahu dipengungsian ini tidak ada satu pun keluarganya. Dewi benar – benar sedih, perasaannya tercabik – cabik oleh rasa rindunya kepada ayah ibunya. Pikirannya mulai berangan – angan yang tidak – tidak, sempat terlintas ia tidak akan bertemu keluarganya lagi. Terbayang hal itu air mata Dewi terus mengucur dengan deras. Hari – hari Dewi lalui di pengungsian dengan tetap berharap orang tuanya dan keponakannya masih hidup dan merindukannya sebagaimana yang ia rasakan. 

Suatu ketika, Dewi tak sanggup lagi berdiam diri dipengungsian. Ia pergi kedesanya untuk mencari keluarga tercinta meski hal itu banyak ditentang oleh orang lain karena sangat beresiko. Tapi Dewi tak mengiraukan bahaya yang siap menjemput Dewi. Tibalah Dewi di Rumahnya yang telah terkubur lahar dingin. “Ibu !!! Ayah !!!  Caca !!! ini Dewi” jerit Dewi. “Ibu, Ayah, Caca jawab aku!” teriak Dewi kemudian. Namun tidak ada sedikit suara pun yang menjawab panggilan Dewi. Dewi terus berteriak – teriak memanggil ayah ibu serta keponakanya dengan sesekali ia beristirahat menghela nafas. Tak terasa matahari mulai tenggelam, itu artinya seharian sudah Dewi mencari keluargnya. Ia mulai berputus asa. “Mungkin kalian sudah tenang disisinya” ucap Dewi dalam hati. Dengan perasaan yang luar biasa berduka Dewi duduk Diatap rumahnya yang hampir tenggelam dimakan lahar dingin, masih terbayang begitu jelas kebahagiaan, canda tawa yang Dewi rasakan sebelumnya, harum bunga yang Dewi tanam juga seolah – olah masih tercium dihidungnya, tapi Dewi tersadar semua itu hanyalah bayangan semata. Semua kebahagiaan dan keindahan itu hilang dalam waktu yang singkat direnggut Banjir lahar dingin akibat letusan Gunung Merapi. Dewi mulai berdiri, dan meyakinkan hati bahwa ia harus tetap hidup meski dalam kesendirian. Ia langkahkan kakinya menjauh dari tempat menyedihkan itu dengan membawa harapan suatu saat ia bisa bertemu keluarganya lagi.


                                                                             Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMAN

BUSINESS CASE: OPTIMALISASI PENGGUNAAN FOODTRUCK BERBASIS SOCIAL MEDIA (SOSMED) SEBAGAI SOLUSI SOLUTIF DALAM PEMASARAN COFFEE SHOP DONGENG KOPI

CERPEN: Kartini Di Pelosok Negeri