CERPEN: Kartini Di Pelosok Negeri
KARTINI DI PELOSOK NEGERI
Karya : Krisnawati
Matahari
mulai terbit, suara kicauan burung terdengar saling bersahut-sahutan dengan
nada yang begitu harmonis membawa orang yang mendengarnya terhanyut dalam
panorama keajaiban alam. Pagi itu, Ranti seorang wanita parubaya yang merupakan
seorang guru, terlihat begitu sibuk
menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercinta yang telah menemani hidupnya 20
tahun. Sang suami sangat bangga dengan istrinya, Ranti. Karena, Ranti adalah
sosok wanita pekerja keras dan mau di ajak hidup susah. Mereka tinggal disebuah
pedesaan terpencil di daerah Maluku, yang mungkin desa itu sulit sekali
terhendus oleh kemajuan teknologi. Ranti tinggal bersama suaminya yang bernama
Anto dan putrinya Sifa yang masih berusia 3 tahun.
Pagi
itu, ketika matahari masih terlihat malu-malu menampakkan sinarnya. Ranti mulai melaksanakan tugas muliannya
sebagai seorang guru. “Ibu, aku ikut!” ujar sifa merengek dengan terbata-bata
karena belum lancar berbicara. “Nak! Jalannya jauh dan berbahaya, Sifa dirumah
saja ya dengan ayah. Nanti ibu bawakan permen” jawab Ranti. Mendengar janji
ibunya yang akan memberi permen, Sifa terlihat senang. Akhirnya Ranti mulai
menggoes sepeda tuanya yang telah menjadi saksi kejamnya hidup didaerah
pedalaman, Ranti terus menggoes menelusuri jalan setapak yang licin karena tadi
malam turun hujan dengan begitu deras, bukan hanya jalan yang licin, di kanan
dan kiri Ranti terdapat tebing-tebing yang curam seolah-olah ingin melahap
Ranti dan sepeda tuanya hidup-hidup. Bahaya yang selalu menemani perjalanan Ranti
setiap pagi tak pernah ia hiraukan. Dalam benak Ranti selalu terbayang
wajah-wajah muridnya yang senantiasa bersemangat untuk mendapatkan suapan ilmu
dari Ranti.
Satu jam sudah Ranti menggoes sepeda
tuanya, akhirnya Ranti tiba ditempat yang ia tuju. Sungguh mencengangkan tempat
yang Ranti tuju hanyalah gubuk kecil yang mungkin hanya muat untuk 5 orang
saja. “Assalamualaikum!” salam Ranti. “yeee ! ibu Ranti datang ! ayo belajar
yok!” rengek seorang muridnya. “Iya nak kita akan belajar, kalian sudah makan?”
tanya Ranti dengan penuh kasih sayang. “Sudah bu! Aku kenyang!” jawab seorang
muridnya yang memiliki fisik tidak seperti anak – anak pada biasanya. Ranti
sangat terharu dengan semangat anak-anak tersebut, meski fisiknya tidak
sempurna tapi mereka memiliki semangat
yang luar biasa sempurna. Ranti mengajarkan banyak hal kepada muridnya, namun
yang Ranti ajarkan hanya sebatas pelajaran umum.
Waktu
menunjukkan pukul 10.00 WIB, Ranti mempersilahkan anak - anak yang kurang beruntung
itu untuk melepaskan penatnya dengan bermain bersama. Melihat keceriaan yang
begitu alami terpancar di wajah mereka membuat Ranti merasa iba sekaligus
bangga dengan mereka yang masih bisa bertahan di daerah terpencil dengan
kondisi fisik yang tidak sempurna. “Mereka adalah anak-anak indonesia sejati,
semoga kemajuan teknologi dapat dengan segera kami rasakan, agar masa depan
mereka semakin terjamin.” Ungkap Ranti dalam hati. Karena waktu mulai siang
akhirnya murid-muridnya ia izinkan untuk kembali kepelukan orang tuanya.
“Anak-anak, cukup dulu pelajaran hari ini, silahkan pulang kerumah dan jangan
mampir-mampir ya” pesan Ranti kepada muridnya. “Baik bu!!!” jawab sang murid
dengan serentak. “Lega! Akhirnya aku bisa pulang dan bertemu dengan keluargaku”
pikir Ranti.
Ranti
menggoes sepeda tuanya lagi menelusuri jalan yang tadi pagi ia lewati.
Tiba-tiba ditengah perjalanan pulang hujan turun dengan sangat deras. “waduh
gawat, hujannya deras sekali. Aku harus lebih cepat dan mencari tempat
berteduh” kata Ranti sambil menggoes dengan tergesa-gesa. Ranti berteduh
dibawah pohon besar, meskipun ia tahu tubuhnya masih tetap basah terkena air
hujan. Seketika, Ranti teringat dengan janjinya kepada anaknya untuk membelikan
permen. Rasa sayang kepada anak membakar rasa takutnya dengan kilapan petir
yang ada saat itu. Ranti kembali lagi kepedesaan terdekat untuk membeli permen,
ia tak peduli meski ia harus basah kuyup. “Biarlah badanku basah. Asalkan
anakku bahagia” tekad Ranti.
Akhirnya,
perjuangan melawan hujan dapat diselesaikan dengan baik oleh Ranti hingga ia
tiba di rumahnya. Pertama kali Ranti menginjakkan kaki dirumahnya yang pertama
ia tanyakan adalah Sifa. “Sifa... Sifa... ibu pulang, ini permen untukmu!” “Mana
bu..! wah terimakasih bu, ayo masuk bu ganti baju biar tidak masuk angin” ungkap
Sifa. “Sudah kubilang berhentilah mengajar digubuk itu!” saran Anto suaminya.
“Tidak yah” “Kenapa tidak, lagi pula tidak ada yang membayarmu mengajar
mereka?” “Bagiku anak – anak itu lebih berharga dari pada uang. Mereka memiliki
hati yang bersih dan tulus. Dan hati itulah yang dibutuhkan sebagai pemimpin negara
ini agar lebih maju.” Ungkap Ranti. “Mulia sekali hatimu bu” puji Anto. “Iya
yah! Aku tidak akan berhenti memberi mereka ilmu sampai Allah swt sendiri yang
menghentikannya.”
Keesokan
harinya, Ranti mendadak sakit. Ia tak kunjung sembuh hingga lima hari lamanya.
Saat itu alam seakan ikut merasakan sakit yang dialami Ranti. Sementara itu,
lima muridnya mulai gelisah menunggu waktu belajar. Akhirnya setelah lima hari
berlalu ia mendatangai rumah ibu Ranti. Mereka terkejut melihat pahlawan yang
sangat berjasa bagi mereka tergolek lemah tanpa daya. Dihadapan murid, suami,
dan anaknya akhirnya Ranti menghembuskan nafas terakhirya bersama harapan – harapan yang akan selamanya menjadi
harapan. Semua berduka cita dengan meninggalnya Ranti sang pahlawan pembuka
wawasan bagi anak pelosok.
Kini,
tidak ada lagi Ranti yang mereka beri julukan Kartini pelosok negeri. Semua
kenangan indah saat Ranti mengurus kelurga, dan mengajar masih tergambar dalam
benak mereka yang mengenal Ranti. Perjuangan Ranti untuk membuka wawasan bagi
anak pelosok negeri yang memiliki kondisi fisik tidak sempurna dilanjutkan oleh
Anto suaminya. Anto berharap akan segera muncul Ranti Ranti yang baru untuk negara
yang maju.
selesai
note: Cerpen ini pernah mendapat juara 2 dalam lomba menulis cerpen pada event kartini cup di SMA N 1 Unggulan Muara Enim
note: Cerpen ini pernah mendapat juara 2 dalam lomba menulis cerpen pada event kartini cup di SMA N 1 Unggulan Muara Enim
Komentar
Posting Komentar