TANPA JUDUL

Sekilas kubaca hidupku. Tiba – tiba Aku merasa selalu dalam kesialan. Semenjak kepergianmu hidup ini serasa bagai api lilin yang bertahan untuk terus bersinar ditengah badai angin. Tentu api kecil itu tak akan mampu bertahan lebih lama lagi.
Sekilas ku baca hidupku. Teringat Aku saat kerelaan yang Kau tunjukkan dalam setiap antaran dan jemputanmu ketika status SMP masih membalut seragamku. SMA? menakutkan memang. Terlebih saat Aku hanya menjadi bagian kecil dari sekolah itu yang selalu merasa ditindas. Ya itulah saat Aku JUNIOR. Sebuah pengaduan kulontarkan dari bibir ini. Tahukah Kamu apa jawabnya? “Itu resiko yang harus Kau tanggung sendiri. Karena itulah sekolah pilihanmu”.

Sekilas kubaca hidupku. MOS? Hari pertama Aku MOS di SMA itu, jantungku terkejut bukan main. Tak pernah ada setitik bayangan pun yang terlintas bahwa Aku akan merasakan MOS yang setegas dan sedisiplin itu. Kembali lagi, Kau tunjukkan kerelaanmu yang tak mungkin pernah terbalas olehku. Pagi buta Kau kemudikan motor Vega R-mu menelusuri jalanan berpagar pohon sawit, mengantarkanku kemedan pertempuran yang menakutkan “MOS”.
Sekilas kubaca hidupku. Kebahagiaan yang dulu terasa olehku perlahan – lahan terkikis habis hingga akhirnya menghilang. Hilangnya kebahagiaan itu berawal dari keanehan yang bersarang ditubuhmu. Marah, semakin sering kurasa dirimu luapkan amarah yang berlebihan. Pukul, semakin sering pula tangan besarmu menggoreskan luka memar ditubuh Kami. Tangis, semakin sering juga Kau buat Kami menangis melihat keadaanmu. Keanehan semakin kental terasa, tiap kali dipertanyakan mengapa Kau buat luka itu? Kau sama sekali tak pernah tersadar bahwa itu perbuatan tangan besarmu. Dan saat itulah Kau ucapkan kata maaf.  Tak kuasa Kami menolak maaf dari orang yang sangat – sangat Kami cintai.  
Sekilas kubaca hidupku. Keanehan itu terus terasa olehku. Hingga penyakit sederhana terdeteksi menggerogoti tubuhmu. Kami berusaha membuatmu terbebas dari rasa sakit itu, Dirimulah yang seakan tak pernah mau untuk sembuh. Aku tahu itu bakanlah sifatmu yang biasa kukenali. Saat Dirimu katakan akan pergi kedokter begitu bahagia kurasa, tapi terkejutnya Aku saat Kau kembali yang Kau bawa kembali kerumah bukanlah pil obat dari dokter bahkan malah 3 bungkus bakso Kau bawa. Lucu? Ya memang lucu jika saat ini kukenang hal itu. Sedih? Ya Aku sedih mengingat hal itulah yang juga berperan merenggut Dirimu dariku.
Sekilas kubaca hidupku. Aneh? Prilakumu semakin aneh kunilai. Semua pantangan yang tak selayaknya Kau makan, malah semakin sering nan banyak Kau makan. Kucoba sembunyikan makanan yang terpantang untukmu. Kakimu melangkah keluar. Pertanyaan tersirat dibenakku, kemanakah Kau pergi? Jawabnya membeli sendiri apa yang telah kusembunyikan. Malam? Kala malam hari tiba, Kau lebih sering kelur rumah dan berjalan mondar – mandir dihalaman bahkan sampai tiba harinya, Kau tidur di tempat yang tak layak ditiduri yaitu kandang sapi. Fikirku melayang, mungkinkah Kau marah, sedih karena sapi – sapimu kini telah tiada lagi?
Sekilas kubaca hidupku. Terjawab sudah semuanya. Malam hari Engkau meminta tuk di infus. Tapi  setelah Kami bersiap mengantarmu ke rumah sakit Kau malah berbalik tak mau dan berkata “Besok pagi sekitar jam 2 saja”. Pagi hari bertirai hujan yang begitu derasnya, kurasakan penyakit sederhana itu bertambah parah. Hingga akhirnya Aku benar – benar kehilangan Dirimu untuk selamanya. Tangisan tak pernah cukup untuk memanggilmu kembali. Sekarang Aku tersadar maksud jam 2 adalah Kau ingin diantar ke tempat peristirahatanmu yang terakhir.

Sekilas kubaca hidupku. Kedewasaan kini benar – benar Aku butuhkan, keadaan yang memaksaku untuk dewasa. Aku takut Aku tak mampu memangku semua ini. Aku takut semua angan yang kususun harus terkubur bersama Dirimu. Aku takut Aku menyerah dan Aku takut semua kecewa  saat Aku gagal L. Sekilas kubaca hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMAN

BUSINESS CASE: OPTIMALISASI PENGGUNAAN FOODTRUCK BERBASIS SOCIAL MEDIA (SOSMED) SEBAGAI SOLUSI SOLUTIF DALAM PEMASARAN COFFEE SHOP DONGENG KOPI

CERPEN: Kartini Di Pelosok Negeri