CERPEN: Salah Berlabuh



SALAH BERLABUH
Oleh: Krisnawati


Gemericik air hujan yang menetes bergantian dengan tujuan sama yaitu menghapus dahaga yang dirasa bumi, menjadi pelengkap yang tak terpisahkan dari liburan semester tahun ini. Seharian setelah acara pembagian rapor hasil belajar selama setahun yang sempat membuat jantung Cici bedebar – debar cemas, Cici terus menggerutu mengutuk cuaca yang tak bersahabat itu. Padahal sudah sejak lama Cici  merencanakan liburan yang menurutnya pasti menyenangkan. “Huh! Gimana Aku terbang ke pulau Jawa kalau langit terus – terusan nangis kayak gini” keluh Cici.

Keesokan harinya seperti hari – hari sebelumnya Cici bangun kesiangan. Kali ini Cici terlihat terburu – buru mempersiapkan diri menuju bandara. “Untung saja cuaca pagi ini cerah” batin Cici. Beriring rasa cemas akan ketingalan pesawat akhirnya Cici sampai juga dibandara lima menit sebelum keberangkatannya. Kekesalan  terhadap hujan kembali melanda batin Cici. Hujan yang tiba – tiba mengguyur Palembang  membuat Cici mengundur penerbangannya ke pulau Jawa selama 3 jam. Detik terasa begitu lama saat menunggu penerbangan terlebih lagi Cici sangat tidak menyukai hal yang dinamakan “Menunggu”. Menurutnya, menunggu itu sangat membosankan dan benar – benar menguji kesabarannya. Cici berusaha mengusir rasa bosannya dengan mencurahkannya sebagai status dimedia sosial berupa Facebook. Cici membuka kronologinya lalu mengetik sesuatu di kotak apa yang Anda pikirkan?
Jangan biarkan Aku menunggu lebih lama lagi atau Aku akan berlari mengelilingi bandara ini
Kirim (Klik)

Beberapa saat kemudian berbagai pemberitahuan entah itu mengomentari atau menyukai bermunculan. Cici terus membalas komentar – komentar pengguna Facebook pada statusnya bahkan hingga kakinya melangkah kedalam pesawat yang akan membawanya terbang. Cici mendapat pasangan duduk seorang laki – laki berperawakan tampan, tinggi yang mungkin berusia 20 tahun. Laki – laki itu mendelik heran pada Cici yang terus asyik dengan komentar – komentar di statusnya dan memutuskan untuk lebih dulu membuka pembicaraan.
“Pasti ini penerbangan pertamamu?” tebak Roki.
“Dari mana Kamu tahu?” tanya Cici heran sambil beralih pandangan dari ponselnya menuju wajah laki – laki itu.
“Tentu saja!” jawab Roki singkat yang kemudian dibalas dengan tatapan heran oleh Cici. Menyadari makna tatapan itu Roki segera membuka mulutnya
“Coba perhatikan disekelilingmu!” perintah Roki
“Tidak ada penumpang yang memainkan ponsel sepertimu bahkan ponsel mereka sudah dimatikan sebelum melangkahkan kaki kedalam pesawat ini” belum sempat Cici menjawab seorang pramugari cantik menegurnya dengan ramah
“Permisi, selama penerbangan ini tidak diperkenankan menghidupkan ponsel. Segera matikan ponsel Anda!” kata pramugari sembari tersenyum. Setelah pramugari cantik itu meninggalkan Cici ditempat duduknya, Cici segera tersenyum malu dengan wajah memerah pada Roki.

          Selama beberapa jam penerbangan Roki dan Cici terus bercerita entah apa yang mereka ceritakan, disaat hampir seluruh penumpang tertidur pulas mereka tetap saja bercerita dengan serunya. Hingga pesawat mendarat dibandara Soekarno-Hatta Jakarta, dibandara ini Roki dan Cici berpisah Roki harus transit menuju Bali sementara Cici transit menuju Yogyakarta.
“Sampai bertemu lagi gadis kecil” ucap Roki yang beberapa detik kemudian dibalas dengan mata melotot ala Cici
“Aku bukan gadis kecil lagi! Usiaku sudah hampir 17 tahun”
“Iya – iya Aku ralat, sampai bertemu lagi teman sepenerbanganku”  ucap Roki kemudian sembari berlalu dengan lambaian tangan kearah Cici.

          Cici mendapat teman sebangku yang baru pada penerbangannya menuju Yogyakarta, tapi Cici seakan tak berminat untuk menyapa kakek tua disampingnya sehingga perjalanannya terasa hening sampai pesawat tersebut mendarat.

          Hembusan nafas lega terdengar jelas saat Cici menapakkan kedua kakinya ditanah Jawa khususnya Yogyakarta. Didepan bandara  Cici melihat seorang laki – laki yang menjadi tujuannya ke Yogya sedang menunggunya,
“Selamat datang di Yogyakarta Cici!” Ucap Wawan.
“Terima kasih Wan, maaf kalau Kamu menunggu lama” jawab Cici sembari tersenyum.

          Wawan adalah saudara sepupu Cici yang tinggal di Yogyakarta, mereka memang sangat dekat sedari mereka kecil.
“Huh! Akhirnya Aku tiba juga dikota pelajar ini!” ucap Cici sambil merebahkan tubuhnya disofa milik keluarga Wawan.
“Kamu terlihat sangat lelah, sebaiknya besok Kamu istirahat dulu dan kita jalan – jalan besok lusa saja” ajak Wawan.
“Tidak! Mana mungkin aku menyia – nyiakan waktu berhargaku disini hanya untuk beristirahat”

          Bahkan saat berada diseberang pulau sana Cici tetap melakukan ritual biasanya. Ritual apalagi kalau bukan bangun kesiangan seperti saat Ia berada diPalembang.
“Maaf menunggu lama Wan, Aku tadi kesiangan” seru Cici saat melihat tampang Wawan bak benang kusut
“Sudah kuduga Kau pasti melakukan ritualmu lagi, bahkan setelah bertahun – tahun lamanya Kamu tetap tak berubah” ungkap Wawan berusaha memaklumi. Cici merayakan hari pertamanya di Yogya dengan mengunjungi situs bersejarah yaitu Candi Prambanan. Cici terkagum – kagum dengan bangunan bersejarah itu begitu banyak jumlahnya. Hari berikutnya mereka sengaja pergi kekebun binatang Gembira Loka kemudiaan dihari yang sama Cici menuju Candi Borobudur sekali lagi, Cici terkagum – kagum pada keindahan candi ini terlebih lagi candi Borobudur dinobatkan sebagai salah satu dari keajaiban dunia “Sungguh Indonesia pantas untuk berbangga telah memiliki Candi Borobudur” gumam Cici.

          Tanpa disadari oleh Cici Wawan sering menatapnya diam – diam. Wawan sendiri bingung apa yang saat ini sedang melanda hatinya. Mata Wawan mulai menerawang mengingat masa kecilnya bersama Cici. Mereka tampak bahagia. Tiba – tiba Wawan tersentak dari lamunanya, Ia sadar sejak kecil Ia memiliki perasaan yang istimewa terhadap Cici.
 “Mungkinkah?” Wawan bertanya pada diri sendiri.
“Mungkinkah apa?” tanya Cici bingung yang tanpa sengaja mendengar pertanyaan dari bibir Wawan itu. Sebisa mungkin Wawan menghindar dari kewajiban menjawab pertanyaan Cici. Untungnya Wawan berhasil.

          Semakin hari Cici merasakan hal yang aneh mengalir pada  tubuhnya menuju hatinya. Selayaknya sifat Cici yang tak pernah terlalu memikirkan tentang yang Ia rasakan, hal itu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kepribadian Wawan. Hari kelima di Yogyakarta Cici seharian berlibur ke  pantai Parang Teritis tentu saja bersama sang tour guide gratisnya yakni Wawan. Seharian bermain bersama dibibir pantai dengan panorama yang indah membuat desiran aneh semakin terasa mengalir ditubuh Wawan dan Cici. Ketika mereka sedang duduk besanding menghadap laut, tiba – tiba ombak besar menerjang mereka dengan tiada ampun. Wawan terseret beberapa meter kedarat beruntung Wawan berhasil mendapatkan pengangan batang kelapa yang mampu menahannya agar tak terseret kembali kedalam gulungan ombak. Malang, Cici tak seberuntung Wawan, Ia terseret ombak hingga beberapa meter kelaut. Sebenarnya Cici merupakan remaja yang pandai berenang, entah mengapa disenja itu kemampuan berenangnya yang sering Ia banggakan lenyap tak berbekas. Saat ombak dahsyat yang siap merengut nyawa mereka berlalu pergi, Wawan sadar ia tidak melihat Cici dimanapun matanya memandang. Wawan panik bukan main, tiba – tiba matanya menatap sesuatu ditengah laut ada seseorang yang sedang melawan maut berusaha agar tak tengelam dengan teriakan minta tolong yang terbata – bata. Setelah dipasati oleh Wawan , mendadak jantungnya berdegup kencang
“Cici !!!”  teriak Wawan.
“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Wawan meminta bantuan, menyadari tidak ada siapapun yang menjawab teriakannya itu tubuh Wawan langsung melesat berlari dengan cepat menuju laut tanpa dikomando oleh otaknya. Sebisa mungkin Wawan menyeret Cici menuju kepantai. Akhirnya perjuangan Wawan tak sia – sia. Mereka tiba ditepi pantai. Dengan mata menatap nanar kearah Cici yang tak berdaya Wawan berusaha menyadarkan Cici dengan menekan – nekan tubuh Cici.
“Ayolah Cici Kamu pasti bisa bertahan!” kata Wawan mencoba menguatkan Cici. Seakan ada kontak batin diantara keduanya, Cici yang dalam keadaan tidak sadar mampu mendengar perkataan Wawan.
“Uhuk – uhuk!” Cici batuk sembari mengeluarkan air yang sempat terminum olehnya.
“Akhirnya Kamu sadar juga sayangku!  Tahukah Kamu Aku sangat mengkhawatirkanmu” ungkap Wawan dengan mata sekuat tenaga menahan air mata yang siap meluncur.

          Cici hanya terpaku mengingat apa yang terjadi beberapa saat tadi, terlebih lagi ketika ingatannya sampai pada kata – kata Wawan.
“Sayang? Tatapan itu?” tanya Cici pada dirinya.
“Jangan – jangan ...” Cici membuat kesimpulan sendiri.

          Sejak kejadian dipantai Parang Teritis itu, Cici menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Ia lebih sering diam dirumah dan melamun. Wawan mengira Cici merasakan trauma yang hebat akibat nyaris tenggelam saat itu, tapi bukan itu yang membuat Cici diam dan terus melamun. Cici hanya sedang  berusaha berpikir keras dan mencerna maksud dari perkataan Wawan saat itu. Perasaan Cici tak mampu untuk berdusta lebih lama lagi. Sebenarnya Cici bahagia dengan kata Sayang yang diucapkan Wawan, Cici juga merasakan desiran dahsyat saat Ia berada dalam perlukan Wawan ketika Cici tak sadarkan diri.
“Jadi intinya Aku menyukai sepupuku sendiri” Cici mengambil keputusan dengan mantap.

          Wawan menatap  Cici yang tampak mengerak – gerakkan bibir membentuk cekungan bahagia.
 “Ci, sepertinya Kamu sedang bahagia!”
 “Hmm, Iya!” jawab Cici bersemu merah.
 “Ceritakan padaku hal yang membuatmu sebahagia ini” pinta Wawan ingin tahu
“Aku hanya mengingat kata – katamu saat Aku hampir mati di pantai” mulut Cici meluncurkan kata – kata itu dengan lancar tanpa perasaan canggung. Seketika pandangan Wawan melayang jauh mengingat kata – kata yang Ia ucapkan saat itu, tiba – tiba
“Astaga! A-aku ti-tidak bermaksud” kata Wawan terbata – bata.
“Sudahlah Wan, Aku juga merasakan apa yang Kamu rasakan. Aku merasakan desiran aneh dihatiku saat Aku bersamamu” Wawan hanya tercengang mendengar penuturan Cici walau sesungguhnya jantungnya melompat – lompat kegirangan mendengar hal itu.
“Tapi kita adalah sepupu, tidak pantas kita memiliki perasaan ini” ucap Wawan bernada sedih.
“Kamu benar Wan. Lantas kita harus bagaimana?”
“Aku tidak tahu Ci”.
         
Hari ini liburan terakhir Cici di Yogyakarta, sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Cici bahwa perasaannya akan berlabuh pada saudara sepupunya sendiri yang kini mengubah keadaan menjadi lebih kusut dari gumpalan benang. Cici melambaikan tangan kepada Wawan sebagai tanda perpisahan
“Terima kasih untuk semuanya sayang” teriak Cici pada Wawan yang dilanjutkan dengan melangkah pergi menuju pesawat sambil berlinangan air mata.
“Sayang?” tanya Wawan dalam hati. Hatinya berdegup kencang mengingat kata yang keluar dari bibir Cici itu
 “Cepat kembali!” pinta Wawan
“Semoga kita segera menemukan hal terbaik bagi hidup kita, entah itu kita bersatu atau kita temukan kebahagiaan yang lain” ucap Wawan lirih yang mungkin tak akan terdengar oleh telinga Cici. Wawan segera melambaikan tangan kearah Cici, dengan berat hati harus melepas orang yang Ia sayang itu kembali kepulau kelahirannya, Palembang.

          Dua hati yang saling mencintai tapi tidak memiliki kemampuan untuk menyatu akan menyakiti hati mereka satu sama lain. Inilah hidup, Wawan dan Cici mencoba berlaku sedewasa mungkin meski usia mereka baru belasan tahun. Mereka percaya jika mereka ditakdirkan untuk bersatu sebesar apapun rintangan yang menghalangi Cinta mereka, mereka akan tetap bersatu tapi jika takdir berkata lain maka takdir itu sendiri yang akan membantu mereka untuk menghapus rasa cinta itu.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMAN

BUSINESS CASE: OPTIMALISASI PENGGUNAAN FOODTRUCK BERBASIS SOCIAL MEDIA (SOSMED) SEBAGAI SOLUSI SOLUTIF DALAM PEMASARAN COFFEE SHOP DONGENG KOPI

CERPEN: Kartini Di Pelosok Negeri