CERPEN: Hujan Cinta



       
  
HUJAN CINTA
Oleh: Krisnawati


Bertirai tetesan hujan yang begitu deras Sica memandang pada  langit mendung dilengkapi kilatan cahaya. Menakutkan memang. Namun sebuah harapan berusaha diukir dalam – dalam dibenak Sica. Ia tampak  berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk mewujudkan harapan itu.

 Gadis kecil yang baru duduk dikelas 3 SMP ini memang sangat menyukai hujan. Menurutnya hujan mampu membasuh luka yang sering kali membuat air matanya mengalir. Luka yang Sica rasakan wajar untuk dirasakan oleh seorang remaja, luka itu tak akan jauh dari prahara cinta.
“Hai Sica!” sapa seorang pria seraya berdiri disamping Sica turut memandang kearah pandangan bola mata Sica.

“Emm hai!” jawab Sica singkat.
“Jutek amat sih” protes pria itu.
“It’s me and it’s my style” ucap Sica sembari tersenyum simpul pada pria itu yang tampaknya melongo bodoh mendengar ucapan tegas yang dilontarkan Sica. Sejenak kebisuan turut hadir diantara mereka, hanya suara tetesan hujan dan petir yang meramaikan suasana itu. Sampai ketika pria itu berusaha mencairkan kebisuan diantara keduanya dengan lebih dulu melontarkan kata – kata.
“Sepertinya kita sama!”
“Sama? Maksudnya?” jawab Sica bingung dengan tetap tak memandang wajah pria disampingnya.
“Menurutku hujan mampu menghapus segala kepenatan yang kurasa”
“Oh!” ucap Sica singkat.
“Tapi itu salah!”
“Salah?”
“Ya! Awalnya Aku sama selayaknya Kamu. Tapi perlahan waktu membantuku membuka perban yang sempat membuat mataku buta. Dulu Aku selalu melampiaskan segala kesedihan yang kurasa dengan membiarkan hujan menghapusnya hingga tak tersisa.”
“Terus?” spontan bibir Sica meluncurkan pertanyaan itu.
“Aku juga berterima kasih pada hujan yang membantuku bertemu dengan seorang gadis. Saat itu langit begitu berduka hingga tetesan hujan turun dengan derasnya. Aku berteduh dibawah pohon Tembesu berusaha untuk tetap kering. Tanpa disadari olehku, seorang gadis juga berteduh dibalik batang itu. Aku dan Dia terus bergerak mengelilingi pohon Tembesu itu berusaha untuk tidak terkena air hujan. Dan sampai akhirnya kami bertatapan.
“Terus?” Sica ingin tahu.
“ Kami berkenalan dan semakin dekat sampai saat ini” jelas pria itu.
“Huh! Kita beda, Aku hanya pungguk yang merindukan bulan. Bukan sepertimu yang berhasil mewujudkan harapanmu”
“Dengar! Kau bukan pungguk Sica. Saat harapanmu berada dipuncak tertingginya. Ia akan mencari jalannya sendiri agar menjadi harapan yang terwujud”

            Semangat yang sempat padam kini menyala bagai bara yang panas. Menjadikan Sica seorang gadis yang bertekad kuat menggapai harapannya. Saat Sica duduk termenung didepan aula. Sica menyadari yang dikatakan Nando benar, bahwa disaat harapan itu mencapai titik tertingginya harapan itu akan mencari jalannya sendiri agar menjadi harapan yang terwujud. Dari tempatnya merenung, Sica memandang seseorang yang menjadi harapanya melintas dihadapan Sica. Senyum merona sontak tercipta dalam waktu yang relatif singkat.
“Mungkinkah Aku mampu untuk menggapai harapan itu? Tuhan bantu Aku! beri yang terbaik untukku Tuhan!” Pikir Sica.

            Semangat itu kini mulai melemah lagi, hingga sepucuk surat cinta terdapat di atas meja Sica.

            Dear my angel Sica,

Hujan telah membuat kita bertemu.
Semakin Aku memandangmu, gemuruh tak menentu melanda dihatiku.
Senyum yang Kau ukir dikala Kau merenung membuatku salah tingkah.
Kau malaikat kecilku yang manis.
Ku harap hujan pulalah yang kan menyatukan kita.

Salam Sayang,

Pangeran Hujan

Surat itu membuat Sica berpikir keras untuk menebak siapa pengirimnya. Seminggu berlalu. Sejenak Sica mulai melupakan sepucuk surat cinta itu. Teettt, bell tanda pulang sekolah berbunyi dengan kerasnya lalu disambut suara – suara bahagia dari para pelajar.

            Sica berjalan menelusuri koridor kelas. Langkahnya terhenti saat telinganya mendengar nama pangeran hujan disebut.
            “Pangeran hujan!” sebut seorang pria bernama Yuda.
            “Kamu tahu siapa itu pangeran hujan?” tanya Sica.
            “Iya, tentu saja Aku tahu”
            “Siapa?”
            “Kalau mau tahu siapa Pangeran Hujan, ayo ikut Aku!” ajak Yuda pada Sica.

Yuda dan Sica berjalan beriringan menuju taman depan sekolah. Tiba – tiba langkah Sica terhenti ketika melihat kumpulan bunga mawar merah yang berbentuk love terbentang dihadapannya dan ditengah bunga mawar merah itu terukir nama Sica dengan jelas.
“Ini apa maksudnya?” tanya sika pada Yuda tak percaya dengan yang dilihat matanya.
“Sica, Pangeran Hujanmu itu Aku” ucap Yuda sembari menatap mata Sica serius.
“Sudah lama Aku memperhatikanmu dan kini Aku tertarik padamu” lanjutnya kemudian.
“A-ku” Sica bingung.
“Sssttt, Do you love me?” potong Yuda saat Sica bicara sambil menggerakkan telunjuknya dihadapan bibir Sica.

Harapan yang ingin dicapai Sica adalah berada disisi orang yang dia sayangi sejak setahun belakangan ini, dan pria itu adalah Yuda.
“Tuhan terima kasih Kau kabulkan harapanku yang awalnya Kukira mustahil” ucap Sica dalam hati.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SHORT STORY ABOUT MY LIFE

ESSAY: CUCU BUTI “CUMI – CUMI BUMBU TINTA” SEBAGAI WUJUD OPTIMALISASI POTENSI LOKAL MELALUI KULINER KHAS SULAWESI TENGAH GUNA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN NASIONAL BERBASIS SEKTOR PERIKANAN DAN KELAUTAN