CERPEN: Nando & Keakrabanku



 NANDO DAN KEAKRABANKU

Sapaan sinar mentari yang begitu lembut membuatku terbangun dari tidur lelapku. Ku lihat jam kecil didekatku, haaahhh ! sudah jam 6 kurang 15 menit ? dengan tergesa-gesanya aku beranjak dari tempat tidurku. Berlari menuju kamar mandi. Akau pergi kesekolah dengan raut wajah cemas dan terburu-buru sebagaimana orang yang tertinggal pesawat menuju surga tanpa singgah di neraka.
Akhirnya, aku tiba disekolah. Sedih ! gerbang sudah tergembok dengan rapat, aku binggung, mau kembali pulang rasanya tak mungkin. Duduk termenung didepan gerbang sekolah itulah yang aku lakukan saat itu. Kemana perginya pak satpam ? tanyaku dalam batin. Lama  aku duduk termenung, datanglah pak satpam. Ia membukakan gerbang untukku. Senang rasanya bisa masuk kesekolah. Saat aku melangkah menuju kelas pak satpam memanggilku. “ eh dek ! catat dulu nama dan kelasmu dibuku ini!” seru pak satpam. Seketika semua mata tertuju padaku, karena saat itu aku sedang berada ditengah lapangan. Huh malunya aku ! nama dan kelasku kini tertera dalam buku hitam.
Sejenak kulupakan kejadian memalukan dilapangan itu. Jam demi jam kulewati disekolah tanpa ada gangguan apa pun. Teeettttt ! bel pergantian jam berbunyi. Setelah guru  keluar dari kelas kebiasaan aku dan teman-teman pun kami lakukan, yaitu bermain dan bercanda dengan sesama. Mataku tertuju pada teman-temanku yang terlihat bahagia bermain bercanda satu sama lain. Dibelakang tempat dudukku ada seorang anak laki-laki bernama Nando yang sedang duduk termenung. Hatiku tergerak untuk menyapanya “Heii.. nand ! sedang apa kamu ? menggalau ya?” tanyaku. “ahhh... apa sih kamu ni Kan”  balas Nando. Seketika aku bergerak dan duduk disamping Nando. Bahagianya aku, akhirnya perlahan demi perlahan Nando mau bercerita tentang masalahnya. Usai dia bercerita kami bercanda. Meski dia masih tampak malu-malu kami berdua berusaha menghangatkan suasana. Banyak hal yang kami lakukan untuk menghibur diri.
Sejak hari itu, aku dan Nando semakin dekat. Kata-kata lucu nan humoris selalu terucap dari bibir kami. Tak bisa ku pungkiri hari-hariku menjadi semakin indah dengan dekatnya aku dan Nando. Suatu hari, ketika pelajaran Biologi, Nando yang duduk didekatku menendang—nendang kursiku. Sontak aku menjadi tak nyaman duduk disana, tapi anehnya aku tak marah pada Nando bahkan ketika Nando semakin sering melakukan hal itu, aku tetap tak marah. Malah aku memiliki julukan baru untuk Nando. Yaitu, Pangki yang artinya panjang kaki. Nando yang aku juluki pangki juga tak merasa keberatan dengan julukan itu. Kini keakraban yang tak pernah terbayangkan tercipta diantara kami. Bel pertanda pulang pun berbunyi. “Kania ! besok yang datang terlambat kena jitak !” ujar Nando. “Oke ! kalo aku yang datang duluan kamu aku jitak ya!” balasku.
Keesokan harinya, ternyata aku yang sampai disekolah lebih dulu. Ketika Nando datang, sontak kujitak kepalanya. Hahaah !  aku tertawa bahagia. Dengan senyumanya yang menurutku sangat memukau Nando mmengejarku. Kami pun berkejar-kejaran didalam kelas. Tiba-tiba, aku terjatuh. Sungguh tak kuduga Nandomenolongku dengan penuh perhatian. “kamu tidak apa-apa Kania?” Nando duduk didekat aku terjatuh dan membantuku berdiri. Saat itu, aku merasakan ada yang tak biasa. Jantungku dengan tiba-tiba berdetak lebih kencang. Perasaan apa ini? Batinku bertanya-tanya. Mungkinkah aku menyukai Nnado? Pertanyaan itu dengan tiba-tiba terlintas dibenakku. Hari demi hari berlalu, kini aku tersadar ternyata aku menyimpan perasaan yang lebih dari seorang teman kepada Nando. Mungkin rasa itu tumbuh dengan seiring semakin dekatnya aku dan dia.
 Ketika hari menjelang siang. Aku dan Nando terlibat sebuah pembicaraan yang awalnya bercanda namun berujung pada keseriusan. Nando mengatakan perasaanya yang ternyata sama seperti apa yang akku rasakan. Betapa bahagianya aku ketika kutahu ternyata nando juga menyimpan rasa untukku. Tapi, kami telah bersepakat untuk tidak berpacaran. Karena kami memandang dampak negatif pacaran yang dapat merusak keakraban diantara aku dan Nando.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SHORT STORY ABOUT MY LIFE

ESSAY: CUCU BUTI “CUMI – CUMI BUMBU TINTA” SEBAGAI WUJUD OPTIMALISASI POTENSI LOKAL MELALUI KULINER KHAS SULAWESI TENGAH GUNA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN NASIONAL BERBASIS SEKTOR PERIKANAN DAN KELAUTAN

CERPEN: Hujan Cinta